Kamis, 12 Maret 2015

Perguruan Tinggi Ikatan Dinas dan Beasiswa Penuh, AKIP Nomor 1


JAKARTA, GORIAU.COM - Penerimaan mahasiswa baru segera tiba. Sejumlah kampus sudah melaksanakan tes penerimaan mahasiswa baru buat lulusan sekolah menengah atas dan sekolah menengah kejuruan.

Berikut ini adalah daftar perguruan tinggi ikatan dinas dan beasiswa penuh yang menerima mahasiswa baru pada tahun 2015.

1. Akademi Ilmu Pemasyarakatan (AKIP) Kementerian Hukum dan HAM RI
, Jalan Raya Gandul, Cinere, Jakarta Selatan.

2. Akademi Kimia Analis Jawa Barat, Jalan Ir H Juanda 7, Bogor.

3. Akademi Pimpinan Perusahaan Jakarta, Jalan Timbul 34, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

4. AKAMIGAS-STEM - Akademi Minyak dan Gas Bumi (Sekolah Tinggi Energi dan Mineral) di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI. Lokasi kuliah Cepu, Jawa Tengah (kawasan rig dan pengeboran minyak).

5. Akmil - Akademi Militer RI.

6. Akpol - Akademi Kepolisian RI.

7. Badan Meteorologi Nasional (BMG), Akademi Meteorologi dan Geofisika (AMG), Jalan Perhubungan I Nomor 5, kompleks Metro, Pondok Betung, Bintaro, Tangerang.

8. Badan Pusat Statistik (BPS), Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS), Jalan Otto Iskandardinata Nomor 64C, Jakarta Timur.

9. Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), Jalan Bintaro Utama Sektor V, Bintaro Jaya, Tangerang.

10. MMTC - Sekolah Tinggi Multi Media Training Centre di bawah Kementerian Komunikasi dan Informatika RI (Kominfo). Lokasi kuliah di Yogyakarta.

11. Politeknik Kesehatan DEPKES Surabaya, Jalan Pucang Jajar Tengah 56, Surabaya.

12. Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi, Jalan Cimandiri 34-38, Bandung.

13. Sekolah Tinggi Manajemen Industri Jakarta, Jalan Letjen Suprapto 26, Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

14. Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung, Jalan Dr Setiabudi 186, Bandung.

15. Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia, Curug Banten, Jalan Raya PLP Curug, Tangerang.

16. Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta, Jalan AUP, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

17. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional Yogyakarta, Jalan Tata Bumi 5, Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta.

18. Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN), Jalan Raya Haji Usa, Desa Putat Nutug, Ciseeng, Bogor.

19. Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil Jawa Barat, Jalan Jakarta Nomor 31, Bandung.

20. Sekolah Tinggi Transportasi Darat Jawa Barat, Jalan Raya Setu Km 3,5, Cibuntu, Cibitung, Bekasi, Jawa Barat.

21. Sekolah Tingi Kesejahteraan Sosial Jawa Barat, Jalan H Juanda 367, Bandung.

22. STIS - di bawah Badan Pusat Statistik (dapat uang saku per bulannya Rp 850.000).

23. STPDN/IPDN - Institut Pemerintahan Dalam Negeri di bawah Kementerian Dalam Negeri RI.

24. STPN - Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional di bawah Badan Pertanahan Nasional RI. Lokasi kuliah Yogyakarta.

25. STSN - Sekolah Tinggi Sandi Negara - di bawah Lembaga sandi Negara. Lokasi kuliah di Bogor. ***

Editor: sanbas
Sumber: tempo.co

Pelarian pada Lapas Nusakambangan, Lapas paling di takuti nomor 2 di dunia, "KOK BISA ADA PELARIAN" ??????

Pulau Nusakambangan
Pengamanan Lapas Nusamkambangan

Merdeka.com - "Bapak-bapak yang punya kumis dan jenggot harap dilepas. Kami ini digaji pas-pasan. Kadang kami menembak kaki namun kenanya selalu kepala," demikian pidato singkat sipir penjara Nusakambangan di pelabuhan Wijaya Pura, Cilacap, Jawa Tengah tiga dekade itu masih diingat jelas oleh Nanggo Kromang, alias Bernard Timong, 65 tahun.

Lapas Nusakambangan
Jantungnya dibuat mau loncat dari mulut. Seketika itu juga nyalinya langsung ciut. "Itu hanya kiasan, kumis dan jenggot itu hanya istilah dari jagoan," ujarnya mengenang. "Jadi tidak ada jagoan di Nusa Kambangan. Kalau gaji kecil itu artinya orang lapar, jadi kalau orang lapar bisa berbuat apa saja," kata Timong sambil tertawa.

Timong, begitu dia dikenal mencoba mengingat perjalanan hidupnya pernah menghuni penjara paling ditakuti nomor dua di dunia. Namanya memang tak terdengar, namun dia adalah perancang 34 narapidana untuk lari dari Lapas Permisan, Penjara Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah pada 1982 bersama dengan Jhoni Indo.

"Saya tidak mencari popularitas. Saya mau cerita asal dibuat versi 34 orang yang kabur. Itu yang sebenarnya soal cerita pelarian napi dari Nusakambangan," katanya membuka perbincangan merdeka.com semalam.

Timong menepati janjinya membuka cerita sebenarnya soal pelarian dari Penjara Nusakambangan 33 tahun silam. Lelaki kelahiran Larantuka, Flores, 13 Januari 1950 itu bercerita soal kisah pelariannya yang sempat membuat geger pemerintah termasuk media internasional kala itu. Bahkan kisah ini juga pernah di film-kan, tapi dengan versinya Jhon Indo. Alur cerita pelarian 34 narapidana versi Timong ini juga berbeda dengan film dengan lakon utama Jhoni Indo itu.

Dia lantas menyalahkan sebatang rokok kretek. Kepulan asap rokok mengantarkan perbincangan di balik pelarian para narapidana kelas kakap. Maklum, Penjara Nusakambangan kadung kesohor berisi para bromocorah. Mayoritas penghuninya menjalani hukuman 10 tahun kurungan dengan berbagai kasus. Bahkan ada narapidana menunggu hukuman mati. Penghuninya berperkara mulai dari pelaku perampokan hingga pembunuhan.

"Kalau cuma 10 tahun ibarat tempe digoreng belum matang orangnya sudah pulang," kata Timong mengenang temannya sesama narapidana memberi semangat untuk bisa lari dari Lapas Permisan.
Evakuasi Narapidana Oleh Petugas Lapas Nusakambangan

Begini cerita dituturkan Timong. Tahun 1981 merupakan awal kaki pertama Timong menapakkan kaki menghuni Pulau Nusakambangan. Raport merah dari Penjara Cipinang, Jakarta Timur, mengantarkan ayah dari lima anak ini menghuni Lapas Permisan. Sejak dari penampungan di Lapas Permisan, Timong memang sudah berencana untuk kabur. Dia lantas bertemu dengan Sugeng, seorang narapidana asal Semarang, Jawa Tengah.

Kepada Sugeng, Timong menawarkan untuk kabur dari Nusa Kambangan. Namun niat itu ditampung. "Dikarantina, saya mengajak napi lain untuk kabur. Sugeng waktu itu mau, tapi saya bilang nanti kita atur kalau sudah masuk blok," kata Timong.

Selepas menghuni Blok di Lapas Permisan, Penjara Nusakambangan, ide Timong disambut napi lain. Saat menggosok batu cincin, Timong pun ditanya soal idenya merancang lari dari Nusa Kambangan. Adalah Slamet, Amri, Budi, Imam Syafei, Kuto, Doi, dan sisa narapidana lain bergabung untuk sama-sama merencanakan pelarian dari dalam lapas.

Siasat soal pelarian itu dirancang sekitar dua bulan lebih. Timong bersama para napi lain membahas rencana kabur itu melalui tulisan di secarik kertas saat mereka bekerja di kebun. Kuto, seorang narapidana dipercaya sebagai kurir. Melalui Kuto komunikasi soal rencana pelarian itu dibicarakan. "Kurir ini tidak pernah ganti-ganti, kalau ganti bisa bocor dan kalau ketahuan kurir ini yang kita bunuh," ujar Timong.

Slamet memiliki tugas paling inti direncana pelarian para narapidana. Dia ditugaskan menghitung hari baik sesuai dengan primbon jawa. Berdasarkan hitungan primbon, waktu baik untuk melakukan pelarian adalah sekitar 6 jam. Waktu itu dari pukul 12.00 WIB hingga 18.00 WIB. Rencana pelarian pun bakal dilakukan ketika Pemilihan Umum 3 Maret 1982.

Namun Timong kembali mengatur strategi, hari pemilu dirasa tidak tepat lantaran penjagaan aparat keamanan pasti ketat. Hingga akhirnya pelarian itu dilakukan saat hari libur. Tepatnya ketika kenaikan Isa Almasih, tiga hari setelah pemilu. "Hari itu pas kenaikan Isa Almasih. Itu hari libur dan sipir yang berjaga hanya lima orang," tutur Timong.

Untuk mengelabui sipir, rencana kabur pun diatur. Waktu itu pintu gerbang atau portir pintu masuk tak dibuka. Berbagai cara disiasati narapidana mulai dari pinjam gunting hingga pinjam pompa ban. Namun, siasat itu tak berhasil. Sipir penjara tidak membuka pintu namun memberikan gunting dan pompa lewat sela jeruji besi.

Hingga waktunya tiba, tepat pukul 11 siang, dua orang narapidana kepercayaan Lapas Permisan mengantarkan kelapa. Sekitar 70 butir kelapa itu diangkut dengan menggunakan bambu panjang. Tanpa membuang waktu, saat pintu gerbang dibuka, para narapidana ini langsung bergerak cepat. Mereka berlari menuju pintu gerbang sebelum dikunci kembali oleh sipir. "Serbu..serbu. Patokan kita pakai bambu yang digunakan untuk membawa kelapa, karena panjang, sipir itu belum menutup pintunya. Saat itu kita mulai gerak," ujarnya.

Ke-34 narapidana itu berhasil kabur dengan cara memukul sipir hingga pingsan. Mereka berhasil membawa enam pucuk senjata api jenis revolver milik sipir. Sayang dari enam pistol, hanya satu berisi peluru. "Sisanya kosong tanpa peluru," kata Timong.



Tentang AKIP (Akademi Ilmu Pemasyarakatan) Kementerian Hukum & HAM RI

Pertemuan Akbar Alumni AKIP

Jakarta, 13/03/2015. Jika ada pertanyaan mengenai jenis petugas/aparat hukum yang paling banyak berhadapan dengan penjahat/pelaku kriminal, maka jawabannya adalah Petugas Pemasyarakatan atau yang sering disebut dengan istilah Sipir.

Bukan bermaksud untuk membandingkan di antara petugas/aparat hukum, Polisi menangani pelaku kriminal/penjahat mungkin paling lama hanya beberapa bulan, sedangkan Sipir atau Petugas Pemasyarakatan bisa bertahun-tahun berhadapan dengan para pelaku kriminal dan bahkan tugas mulianya adalah membina dan mendidik para pelaku kriminal ini agar dapat kembali diterima di Masyarakat. Resikonya sama-sama tinggi antara Polisi dan Petugas Pemasyarakatan, namun mungkin bisa dikatakan Petugas Pemasyarakatan memiliki resiko yang lebih tinggi karena harus menjalani tugasnya menghadapi dan membina para penjahat setiap hari yang jumlahnya ratusan hingga ribuan di dalam sebuah Lapas/Rutan.

Dimanakah Petugas Pemsyarakatan ini menimba ilmu pembinaan narapidana? ternyata di Indonesia ada Perguruan Tinggi Kedinasan penghasil petugas pemsyarakatan, yaitu AKIP (Akademi Ilmu Pemasyarakatan) Kementerian Hukum dan HAM RI yang melaksanakan program pendidikan Diploma III untuk menciptakan tenaga profesional dalam bidang Pemasyarakatan.

Memang tak dipungkiri lulusan AKIP selalu diperhitungkan pada jajaran Kementerian Hukum dan HAM RI (Departemen Kehakiman dan HAM RI) dan Pemerintahan, hal ini dapat dilihat dari banyaknya alumni AKIP pada setiap periode Kepresidenan selalu menduduki posisi Eselon I dan II (Staf Ahli Menteri, Sekretaris Jenderal, Direktur Jenderal, Kepala Badan dan Kepala Kantor Wilayah) pada Kementerian Hukum dan HAM RI tak hanya sampai disitu lulusan AKIP juga tidak sedikit yang berkarir pada Mahkamah Agung (Hakim Agung, Hakim Tinggi,  Hakim Adhock/Tipikor dan jajarannya), Anggota DPR RI, Kepolisian (Perwira), Pengacara, BIN (Badan Intejen Negara), Instansi Birokrasi Vertikal lainnya (posisi eselon I  dan II), pihak Swasta (pilot Garuda Indonesia, Unilever dll), dan posisi ajudan Menteri Hukum dan HAM selalu didominasi oleh lulusan AKIP, tak cukup sampai disitu bahkan sampai keluar negeri terdapat alumni AKIP yang menduduki posisi sebagai Atase dan Kepala Pemasyarakatan Republik Timor Leste (sejajar dengan Kepala Kepolisian RI, Kepala Kejaksaan Agung dan Ketua Mahkamah Agung).

Kementerian Hukum dan HAM RI terdiri dari 11 unit eselon satu diantaranya sebagai berikut :
  1. SEKRETARIAT JENDERAL
  2. INSPEKTORAT JENDERAL
  3. DIREKTORAT JENDERAL PEMASYARAKATAN
  4. DIREKTORAT JENDERAL IMIGRASI
  5. BADAN PEMBINAAN HUKUM NASIONAL
  6. DIREKTORAT JENDERAL HAK ASASI MANUSIA
  7. DIREKTORAT JENDERAL HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL
  8. DIREKTORAT JENDERAL ADMINISTRASI HUKUM UMUM
  9. DIREKTORAT JENDERAL PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
  10. BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA
  11. BADAN PENELITIAN PENGEMBANGAN HAK ASASI MANUSIA
AKIP berdiri pada tanggal 24 Oktober 1964 berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 270 Tahun 1964. AKIP bernaung di bawah Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia (dulunya Departemen Kehakiman RI).

Lulusan Akademi Ilmu Pemasyarakatan (AKIP) ini nantinya akan ditempatkan pada Unit Pelaksana Teknis (UPT) antara lain: Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Lembaga Pemasyarakatan, Rumah Tahanan Negara, Balai Pemasyarakatan, dan Rumah Penyimpanan Benda Sitaan dan Rampasan Negara, namun pada kenyataannya banyak dari lulusan AKIP yang justru menduduki posisi-posisi yang sangat strategis pada Kementerian Hukum dan HAM RI hal tersebut tentunya didasarkan pada SDM dan kompetensi serta "Jiwa Korsa" yang selalu dijunjung tinggi oleh para Alumni AKIP.




.